Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2025

Menjawab Tanya

Gambar
Mungkinkah begitu? tanya sang senja, Saat malam berbisik, bintang pun meredup. Bolehkah hati ini berharap lebih, Dari sekadar mimpi yang tak bertepi? Mungkinkah begitu? tanya jiwa yang resah, Saat rindu menggebu, tak bisa terpecah. Bolehkah ku sentuh bayangmu di sana, Walau hanya sekejap, lalu menghilang sirna?   Mungkinkah begitu? tanya hati yang berani, Saat cinta bersemi, di tengah sunyi. Bolehkah ku ungkap semua yang kurasa, Tanpa takut terluka, tanpa ragu binasa?   Mungkin saja, jawab sang waktu yang bijaksana, Jika kau percaya pada keajaiban cinta. Mungkin saja, jawab semesta yang luas, Jika kau berani melangkah, tanpa merasa cemas.   Boleh saja, jawab hati yang tulus, Jika kau siap menerima, tanpa harus membalas. Boleh saja, jawab jiwa yang merdeka, Jika kau ikhlas mencinta, tanpa syarat dan duka.   Jadi, mungkinkah begitu?, dan bolehkah? " Maka, saat ini, sebelum senja itu berlalu begitu saja dari pandanganku,  akan kujawab, dengan lima nada sendu yang m...

Untukmu, Pejuang di ICU: Senja dan Pelangi Menantimu

Gambar
Di hari yang seharusnya penuh suka cita, Saat toga berkibar, senyum merekah di mana-mana. Kau tak di sana, bukan karena tak ingin, Namun takdir memanggilmu ke medan juang lain.   Ruang ICU kini jadi panggungmu, Setiap napas adalah lagu perjuangan yang baru. Kami tahu hatimu pilu, raga terbelenggu, Melewatkan momen indah yang telah kau tunggu.   Namun ingatlah, wisuda hanyalah awal, Kisahmu jauh lebih besar, lebih kekal. Semangatmu adalah mahkota yang tak terganti, Ketabahanmu adalah ijazah paling berarti.   Kami di sini, dengan doa dan cinta, Menjadi jembatan harapan, penguat jiwa. Setiap tetes darah yang mengalir, Adalah bisikan kasih, "Kau tak sendiri, kawan, kami hadir."   Bangkitlah, pejuang kami, jangan menyerah, Binar matamu adalah pelita yang tak akan padam. Kami menanti senyummu kembali cerah, Merayakan hidup, setelah badai ini reda.   Cepat pulih, sahabat, kami rindu candamu, Dunia ini menanti kehadiranmu. Semoga kekuatan menyelimuti ragamu, Hingga kita...

Di Papan Takdir: Kanagara, Jenggala, Binar Abadi

Gambar
Di arena hidup yang luas, kita bidak-bidak kecil, bergerak dalam kotak hitam putih yang licin dan abadi. Tanpa ratu di sisi, langkah raja bagai detak patah yang pilu, namun kesetiaan diuji tanpa jaminan akhir yang pasti, hanya harapan.   Pahit kopi tanpa gula, jujur denyutnya mengalir dalam jiwa, seperti cinta yang kadang menelanjangi raja hingga rapuh terasa. Mahkota atau luka, takdir gemetar memberi tanpa pilih kasih, tapi kita tak dicipta untuk kalah, hanya diajari berjalan lebih lama dari yang lain.   Di antara gemerlap Kanagara dan keagungan Jenggala yang berbinar, kita ukir jejak langkah, tegar terasa meski badai menerpa. Binar harapan menyala di tengah pahitnya dunia yang fana, menari di antara kotak takdir yang misterius dan penuh teka-teki.   Di bawah langit papan takdir, kita mencari makna sejati, bukan tentang menang atau kalah semata, melainkan perjalanan hati. Tapi tentang bagaimana jiwa tetap menyala dengan semangat membara, di antara Kanagara, Jenggala, dan...

Di Pelataran STIPAS

Gambar
By:RM Senja itu, di pelataran STIPAS Santo Petrus, terasa begitu berbeda. Bukan hanya karena barisan toga yang memenuhi pandangan, atau senyum-senyum bahagia yang menghiasi wajah-wajah yang kukenal. Lebih dari itu, ada getar haru yang memenuhi dada, seolah setiap sudut tempat ini menyimpan kenangan yang siap meledak. Aku, bagian dari Angkatan XV, berdiri di antara teman-teman seperjuangan. Bukan sekadar teman sekelas, tapi keluarga. Kami telah melewati suka dan duka bersama, merajut kisah yang tak mungkin terlupakan. Di balik senyumku, tersembunyi jejak air mata. Air mata perjuangan, air mata keraguan, air mata kebahagiaan. Aku ingat malam-malam tanpa tidur, mengejar deadline tugas yang seolah tak ada habisnya. Berdebat di kelas, mencari makna dari setiap teori yang diajarkan. Tawa renyah di kantin, berbagi sebungkus nasi saat dompet menipis. Atau saat-saat hening dalam doa bersama, menguatkan jiwa yang lelah. Namun, di atas segalanya, ada wajah-wajah yang selalu terbayang. Ayah dan Bu...

Malam Berbisik di Kampus yang Merenung

Gambar
By:RisenM Malam berbisik lirih, "Saatmu t'lah tiba," Dinding kampus, saksi bisu, merindu jejak langkah yang kan sirna. Lembar akhir merayu, "Lukiskan kenangan abadi di jiwa," Oroma Wisuda mulai hadir, impian menari dalam sunyi yang menggema, bagai rembulan di telaga ilmu.   Kitab-kitab bertutur, ilmu laksana pengembaraan tanpa tepi, bagai sungai mengalir ke samudra pengetahuan, Sahabat sejati menggenggam erat, tak rela melepas meski sedetik, bagai akar pohon yang berpagut erat di taman persahabatan. Tawa dan air mata berjanji, "Jangan lupakan kami dalam setiap jejak langkahmu," bagai bintang yang selalu bersinar di langit kenangan. Masa depan memanggil, "Sambutlah tantanganku dengan keberanian membara," bagai obor yang menyala di kegelapan dunia kerja.   Gerbang kampus tersenyum teduh, "Pergilah, gapai mimpimu setinggi cakrawala," bagai sayap burung yang membentang lebar di angkasa cita-cita, Bayu berhembus mesra, membawa asa baru d...

Negeri yang Terluka

Gambar
             Negeri yang Terluka Di kursi emas, wajah palsu terpampang, Janji busuk terucap, hati penuh curang. Rakyat tercekik aturan yang mencekik, Pejabat berdansa di atas penderitaan yang terinjak.   Kobaran amarah membakar jalanan, Teriakan pilu menggema, lawan kebohongan. Darah mengalir, sesama anak pertiwi, Nyawa melayang, hanya angka yang terlupa.   Gedung hangus, kaca pecah berantakan, Gas air mata, simfoni kepedihan. Mereka menonton, mata hati membeku, Tertawa puas, derita jadi tontonan lucu.   Oh, Ibu Pertiwi, terkubur serakah, Hukum jadi alat, keadilan punah. Empati mati, lahirkan monster keji, Namun rakyat bangkit, takkan berhenti.   Empati yang mati adalah tawa di atas nestapa, Derita dianggap drama, bukan realita. Namun dari puing, harapan kan merekah, Negeri yang terluka, bangkitlah! Kefamenanu, 03-09-2025 By:RM