Di Papan Takdir: Kanagara, Jenggala, Binar Abadi

Di arena hidup yang luas, kita bidak-bidak kecil,

bergerak dalam kotak hitam putih yang licin dan abadi.

Tanpa ratu di sisi, langkah raja bagai detak patah yang pilu,

namun kesetiaan diuji tanpa jaminan akhir yang pasti, hanya harapan.

 

Pahit kopi tanpa gula, jujur denyutnya mengalir dalam jiwa,

seperti cinta yang kadang menelanjangi raja hingga rapuh terasa.

Mahkota atau luka, takdir gemetar memberi tanpa pilih kasih,

tapi kita tak dicipta untuk kalah, hanya diajari berjalan lebih lama dari yang lain.

 

Di antara gemerlap Kanagara dan keagungan Jenggala yang berbinar,

kita ukir jejak langkah, tegar terasa meski badai menerpa.

Binar harapan menyala di tengah pahitnya dunia yang fana,

menari di antara kotak takdir yang misterius dan penuh teka-teki.

 

Di bawah langit papan takdir, kita mencari makna sejati,

bukan tentang menang atau kalah semata, melainkan perjalanan hati.

Tapi tentang bagaimana jiwa tetap menyala dengan semangat membara,

di antara Kanagara, Jenggala, dan binar cinta yang abadi selamanya.

 

Kita adalah pelukis takdir, dengan kuas keberanian di tangan,

menciptakan harmoni di antara hitam dan putih, suka dan duka.

Kanagara, Jenggala, dan binar menjadi saksi bisu perjalanan ini,

hingga akhir hayat, kita tetap menari di papan takdir yang abadi.


Kefamenanu, 23 September 2025.

By;Risen Manek

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahligai Cinta: Janji Erfan dan Gersy

"Ke Dalam Tangan-Mu": Simfoni Pengabdian

Doa yang Kupuisikan: Catatan Rahasia di Balik Purnama