"Ke Dalam Tangan-Mu": Simfoni Pengabdian
Delapan Oktober Tahun Dua Ribu, janji suci terukir,
Dalam sakramen imamat, jiwa berserah, takdir mengalir.
"Ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku," ikrar abadi terpatri,
Dua puluh lima purnama berarak, dalam panggilan kudus, asa tak pernah letih.
Imamatmu, lentera jiwa yang tak pernah padam,
Membelah Roti surgawi, menghapus noda dosa, membimbing jiwa yang terpendam.
Kilau perak membentang, lambang pengabdian sejati,
Kasih mengalir abadi, tak lekang oleh badai dan sepi.
Di lembah pencobaan, di puncak sukacita, kau teguh berdiri,
Gembala umat, pembawa sabda, hikmat Ilahi memancar dari diri.
Syukur menggema, bagai kidung dari surga abadi,
Atas rahmat Tuhan, anugerah tak terperi.
Imamat suci, mahkota terindah karunia-Nya,
Kau emban setia, dalam liturgi agung, dalam setiap khotbah bernyawa.
Dalam pelayanan, segenap jiwa kau persembahkan,
Membawa Ekaristi, mendengarkan bisikan pertobatan.
Dengan sabar, kau tuntun langkah umat-Mu yang merindukan sungai, mengukir iman, menguatkan yang rapuh, menghibur jiwa yang terluka dalam kehidupan.
Tuhan menyapa kalbumu dengan sentuhan kasih yang murni,
Tuhan memanggil namamu, untuk karya ilahi yang tak terhenti.
Tuhan menulis namamu di prasasti pengorbanan yang agung,
Agar kau bimbing yang tersesat, menuju cahaya kebenaran yang tak terhalang.
Perak bersinar, kini emas memanggil,
Bukan akhir perjalanan, namun janji terjalin.
Imamatmu, panggilan abadi, denyut takkan henti,
Membangun Gereja-Nya, membimbing umat menuju hidup sejati.
Mengenyangkan yang lapar dengan Firman menghidupi jiwa,
Menyegarkan dahaga dengan mata air hidup melimpah ruah.
Semoga di hari esok yang membentang,
Berkat melimpah ruah, tak terbilang.
Tuhan tak hanya bersemayam di mimbar khotbah,
Namun dalam setiap hembusan napas, dalam setiap langkah.
Lewat kesetiaan dalam tugas, di ladang jiwa-jiwa yang gersang.
Firman-Nya kau gemakan, dengan lantunan suaranyaring dan penuh makna " Ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku".
Kau rawat panggilan dengan nada, syair, melodi harmoni,
Menjadi guru, mengajari tangga-tangga nada kehidupan, dan berbunyi di setiap nadi.
Tujuh bulir gandum kau simpan dalam lumbung hatimumu:
Cinta murni tanpa pamrih, kekuatan batin yang teguh, keutamaan tanpa noda, kehati-hatian yang bijak, kepercayaan tulus pada Tuhan, hati terbuka, dan tindakan penuh berkat.
Teruslah menjadi imam, berhati embun pagi yang lembut,
Penuh kasih, pengorbanan, laksana mentari menyambut.
Menjadi jembatan suci, antara fana dan Ilahi abadi,
Sebab Dia yang memanggilmu, menawarkan roti serta anggur untuk hidupmu, dan untuk menghidupi kehidupan.
Imamatmu, simfoni rahmat tak terperi, terukir indah di keabadian sanubari. Selamat atas Ulang Tahun Imamat yang Ke 25 RD. Philipus Benitius Metom, Pr.
Nurobo, 08 Oktober 2025.
By; Risen Manek🖋

Komentar
Posting Komentar