Doa yang Kupuisikan: Catatan Rahasia di Balik Purnama

Aku menuliskan kisahmu di lembaran waktu yang berdebu, tak mengenal bosan.

Dengan tinta rindu yang tak pernah habis, kuukir setiap rindu, abadi, bagai sungai yang tak pernah berhenti mengalir.

Langkahmu menari di antara baris puisi, bagai melodi yang menghipnotis,

Menyulam mimpi dalam sunyi yang genit, selalu, bagai bintang yang berkelip di langit malam.

 

Kau menulis ceritaku di langit senja yang memerah,

Dengan warna-warna yang tak pernah usai, selamanya, bagai pelangi yang menghiasi cakrawala.

Setiap goresanmu adalah detik yang hidup, berdenyut,

Menyanyikan lagu tentang hati yang rapuh, terluka, bagai kaca yang retak namun tetap memantulkan cahaya.

 

Kisahmu, ceritaku, saling bertaut, bagai akar yang menjalin erat,

Seperti bintang dan malam yang tak pernah redup, abadi, bagai dua jiwa yang tak terpisahkan.

Aku menulismu, kau mengukirku, dalam kalbu,

Dalam puisi abadi, kita menjadi satu, selamanya, bagai dua melodi yang bersatu dalam harmoni.

 

Sementara itu aku terus menulis tanpa henti, bagai air terjun yang tak pernah berhenti mengalir,

Tulisan tanpa judul, tanpa konsep, tanpa arah, tanpa tujuan, hanya rasa yang membara.

Semua isi di kepalaku ku tuangkan dalam tulisan, bagai lava yang memuntahkan isi gunung berapi,

Karna lisan ini sudah tak bisa lagi bicara, membisu, seakan dunia sudah bosan mendengar suaraku, terluka, bagai burung yang kehilangan suaranya.

 

Mungkin jika dengan tulisan dunia mau membacanya?!

Aku menulis bukan untuk menyenangkanmu, hanya rasa yang ingin kubagi.

Jika kau suka, bacalah, biarkan rasa mengalir, bagai sungai yang mengalir ke lautan.

Jika tidak, biarkan saja ia berlalu, seperti angin yang tak pernah menanyakan pada daun, apakah kehadirannya mengganggu atau menenangkan, hanya rasa yang ingin kusampaikan.

 

Aku menulis bukan untuk menghindari tersinggungmu, hanya rasa yang jujur.

Jika ada kata yang menusuk, anggap saja ia cermin yang tak sengaja memantulkan wajahmu, hanya rasa yang apa adanya.

Aku tidak memaksa siapa pun mengakui kebenarannya, sebab kebenaran pun sering berjalan sendirian, bagai bintang yang bersinar sendiri di kegelapan, hanya rasa yang ingin kuungkapkan.

 

Aku menulis bukan untuk pujian, hanya rasa yang tulus.

Aku tak haus tepuk tangan, tak lapar sanjungan, hanya rasa yang ingin kau mengerti.

Tiap bait adalah darahku sendiri-jika ada yang menganggapnya indah, syukurlah; jika tidak, biarkan ia kembali menjadi sunyi, bagai embun yang menguap di pagi hari, hanya rasa yang ingin kau rasakan.

Jangan kira aku menulis untuk menawar hati, hanya rasa yang jujur.

Aku menulis karena kata-kata berdesakan di kepalaku, dan aku hanya memberi mereka jalan pulang, bagai burung yang kembali ke sarangnya, hanya rasa yang ingin kau pahami.


Meski tulisanku ini isinya cuma tentang RASA yang tak pernah habis sampai aku tiada, bagai samudra yang tak bertepi, hanya rasa yang ingin kau cintai.

Apa yang kutulis adalah apa yang kulihat, dengan mata hati,

Jika kata-kataku memikat hati, maka semenawan itulah kau, kala kupandangi, bagai rembulan yang mempesona di malam hari, hanya rasa yang kurasakan.

Sajak-sajakku adalah tubuh yang tersalib di tiang penyesalan, bagai jiwa yang merindukan kebebasan, hanya rasa yang ingin kulepaskan.


Kau ayat-ayat doa yang terhilang tak lagi terpanjatkan, bagai harapan yang pupus di tengah jalan, hanya rasa yang ingin kuungkapkan.

Larik-larikku runtuh, bait-baitku luruh, kata demi kata membeku, seperti tubuh yang lupa hangatnya pelukan, bagai musim dingin yang membekukan segalanya, hanya rasa yang ingin kuhangatkan.

Di tiang tinggi yang kau tinggalkan, bagai menara yang menjulang tinggi, hanya rasa yang ingin kusampaikan.

Sajakku tersalib dengan wajah menengadah dan lambung yang terbuka, menganga meneteskan merah penyesalan dan rintih penebusan, bagai luka yang tak kunjung sembuh, hanya penyesalan, mengapa tak ku sampaikan padamu waktu itu?


Kau dan segala tentangmu adalah sekumpulan doa yang selalu kulangitkan, entah terjatuh sebagai harapan atau hilang sebagai kenangan, bagai bintang jatuh yang menghilang di kegelapan. Itulah sesalku.

Dalam sisa malam yang masih kugenggam, bagai mimpi yang tak ingin berakhir, kukirim selarik kata lewat doa, bagai bisikan angin yang berhembus lembut.

Semoga Tuhan menghembuskannya di daun telingamu, bagai alunan melodi yang menyentuh kalbu.

Maka, sebelum malam berlalu begitu saja, temui aku di bawah purnama esok, sebab, talah ku langitkan sebait Doa berwujud puisi cinta. Puisi itu tidak menuntut balasan, ia adalah keabadiaan rasa yang tatap hidup sekalipun sudah tertulis diatas batu nisan.


Kefamenanu, 16 Oktober 2025

By: Risen Manek




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahligai Cinta: Janji Erfan dan Gersy

"Ke Dalam Tangan-Mu": Simfoni Pengabdian