Malam Berbisik di Kampus yang Merenung

By:RisenM

Malam berbisik lirih, "Saatmu t'lah tiba,"

Dinding kampus, saksi bisu, merindu jejak langkah yang kan sirna.

Lembar akhir merayu, "Lukiskan kenangan abadi di jiwa,"

Oroma Wisuda mulai hadir, impian menari dalam sunyi yang menggema, bagai rembulan di telaga ilmu.

 

Kitab-kitab bertutur, ilmu laksana pengembaraan tanpa tepi, bagai sungai mengalir ke samudra pengetahuan,

Sahabat sejati menggenggam erat, tak rela melepas meski sedetik, bagai akar pohon yang berpagut erat di taman persahabatan.

Tawa dan air mata berjanji, "Jangan lupakan kami dalam setiap jejak langkahmu," bagai bintang yang selalu bersinar di langit kenangan.

Masa depan memanggil, "Sambutlah tantanganku dengan keberanian membara," bagai obor yang menyala di kegelapan dunia kerja.

 

Gerbang kampus tersenyum teduh, "Pergilah, gapai mimpimu setinggi cakrawala," bagai sayap burung yang membentang lebar di angkasa cita-cita,

Bayu berhembus mesra, membawa asa baru dalam setiap desahnya, bagai melodi yang menenangkan jiwa di tengah hiruk pikuk kehidupan.

Terima kasih, untuk para dosen , kalbu kami berbisik tulus, bagai mentari yang menyinari hati di setiap langkah perjalanan.

Kenangan abadi, kan terukir selamanya dalam setiap denyut nadi ini, bagai permata yang berkilauan dalam ingatan, tersimpan di museum hati.

 

Dinding kampus adalah bisu, namun menyimpan sejuta cerita,

Susunan batu bata menjadi saksi, bisu namun nyata, membentuk labirin kehidupan.

Setiap batu bata adalah kenangan, tertata rapi dalam ingatan, menjadi fondasi masa depan.

Kampus adalah panggung kehidupan, tempat kita ukir sejarah, meraih bintang!

 

Kita adalah Laskar Pelangi, berjuang meraih mimpi,

Meski dunia penuh aral, semangat takkan pernah mati.

Berbekal ilmu dan persahabatan, kita arungi lautan kehidupan,

Menuju masa depan gemilang, penuh warna dan harapan.



Kefamenanu, 17 September 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahligai Cinta: Janji Erfan dan Gersy

"Ke Dalam Tangan-Mu": Simfoni Pengabdian

Doa yang Kupuisikan: Catatan Rahasia di Balik Purnama