Untukmu, Pejuang di ICU: Senja dan Pelangi Menantimu
Di hari yang seharusnya penuh suka cita,
Saat toga berkibar, senyum merekah di mana-mana.
Kau tak di sana, bukan karena tak ingin,
Namun takdir memanggilmu ke medan juang lain.
Ruang ICU kini jadi panggungmu,
Setiap napas adalah lagu perjuangan yang baru.
Kami tahu hatimu pilu, raga terbelenggu,
Melewatkan momen indah yang telah kau tunggu.
Namun ingatlah, wisuda hanyalah awal,
Kisahmu jauh lebih besar, lebih kekal.
Semangatmu adalah mahkota yang tak terganti,
Ketabahanmu adalah ijazah paling berarti.
Kami di sini, dengan doa dan cinta,
Menjadi jembatan harapan, penguat jiwa.
Setiap tetes darah yang mengalir,
Adalah bisikan kasih, "Kau tak sendiri, kawan, kami hadir."
Bangkitlah, pejuang kami, jangan menyerah,
Binar matamu adalah pelita yang tak akan padam.
Kami menanti senyummu kembali cerah,
Merayakan hidup, setelah badai ini reda.
Cepat pulih, sahabat, kami rindu candamu,
Dunia ini menanti kehadiranmu.
Semoga kekuatan menyelimuti ragamu,
Hingga kita bisa tertawa bersama lagi, seperti dulu.
Dan nanti, setelah hujan reda sepenuhnya,
Kita nikmati senja bersama, warnanya mempesona.
Pelangi hadir, janji kebahagiaan terukir,
Menyambutmu kembali, dengan cinta yang tak terukur.
Kefamenananu, 23 September 2025.
Puisi ini di dedikasikan untuk seorang sahabat yang sedang terbaring di Rumah Sakit.

Komentar
Posting Komentar