Di Pelataran STIPAS

By:RM

Senja itu, di pelataran STIPAS Santo Petrus, terasa begitu berbeda. Bukan hanya karena barisan toga yang memenuhi pandangan, atau senyum-senyum bahagia yang menghiasi wajah-wajah yang kukenal. Lebih dari itu, ada getar haru yang memenuhi dada, seolah setiap sudut tempat ini menyimpan kenangan yang siap meledak.

Aku, bagian dari Angkatan XV, berdiri di antara teman-teman seperjuangan. Bukan sekadar teman sekelas, tapi keluarga. Kami telah melewati suka dan duka bersama, merajut kisah yang tak mungkin terlupakan.

Di balik senyumku, tersembunyi jejak air mata. Air mata perjuangan, air mata keraguan, air mata kebahagiaan. Aku ingat malam-malam tanpa tidur, mengejar deadline tugas yang seolah tak ada habisnya. Berdebat di kelas, mencari makna dari setiap teori yang diajarkan. Tawa renyah di kantin, berbagi sebungkus nasi saat dompet menipis. Atau saat-saat hening dalam doa bersama, menguatkan jiwa yang lelah.

Namun, di atas segalanya, ada wajah-wajah yang selalu terbayang. Ayah dan Bunda. Keringat mereka membasahi bumi, air mata mereka adalah doa tanpa henti. Demi aku, anak mereka, mereka rela berkorban segalanya, tanpa meminta balas jasa. Setiap panggilan telepon, setiap nasihat yang mereka berikan, adalah kekuatan, adalah cinta yang takkan pernah mati.

Para dosen terkasih, kalian bukan hanya pengajar. Kalian adalah mentor, sahabat, dan teladan yang selalu membimbingku. Dengan sabar kalian menuntunku, dengan tulus kalian berbagi ilmu. Kalian adalah pelita di kegelapan, menerangi jalanku yang kadang terasa sunyi.

Dan kalian, sahabat-sahabatku. Pernahkah kita lupa saat saling menguatkan, di saat duka melanda? Mengerjakan tugas bersama, berbagi mimpi di malam sunyi. Kalian adalah keluarga kedua yang takkan terganti. Tawa kita pecah, tangis kita berpadu, membentuk harmoni yang indah.

Kini, wisuda tiba. Bukan perpisahan yang abadi, tapi awal dari pengabdian. Dengan bekal ilmu dan iman, kami melangkah pasti, siap menjadi berkat bagi sesama.

Saat senja semakin larut, aku menatap gedung-gedung yang terbuat dari susunan batu bata yang rapi. Tempat ini akan selalu menjadi rumah bagiku. Tempat hatiku berlabuh dan bertumbuh. Aku berjanji, akan selalu mengingat setiap kenangan di sini, dan membawa semangat STIPAS dalam setiap langkahku.


Kefamenanu 20, September 2025.

By;RisenManek


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahligai Cinta: Janji Erfan dan Gersy

"Ke Dalam Tangan-Mu": Simfoni Pengabdian

Doa yang Kupuisikan: Catatan Rahasia di Balik Purnama