Doa yang Kupuisikan: Catatan Rahasia di Balik Purnama
Aku menuliskan kisahmu di lembaran waktu yang berdebu, tak mengenal bosan. Dengan tinta rindu yang tak pernah habis, kuukir setiap rindu, abadi, bagai sungai yang tak pernah berhenti mengalir. Langkahmu menari di antara baris puisi, bagai melodi yang menghipnotis, Menyulam mimpi dalam sunyi yang genit, selalu, bagai bintang yang berkelip di langit malam. Kau menulis ceritaku di langit senja yang memerah, Dengan warna-warna yang tak pernah usai, selamanya, bagai pelangi yang menghiasi cakrawala. Setiap goresanmu adalah detik yang hidup, berdenyut, Menyanyikan lagu tentang hati yang rapuh, terluka, bagai kaca yang retak namun tetap memantulkan cahaya. Kisahmu, ceritaku, saling bertaut, bagai akar yang menjalin erat, Seperti bintang dan malam yang tak pernah redup, abadi, bagai dua jiwa yang tak terpisahkan. Aku menulismu, kau mengukirku, dalam kalbu, Dalam puisi abadi, kita menjadi satu, selamanya, bagai dua melodi yang bersatu dalam harmoni. Sementara itu aku terus m...