Postingan

Doa yang Kupuisikan: Catatan Rahasia di Balik Purnama

Gambar
Aku menuliskan kisahmu di lembaran waktu yang berdebu, tak mengenal bosan. Dengan tinta rindu yang tak pernah habis, kuukir setiap rindu, abadi, bagai sungai yang tak pernah berhenti mengalir. Langkahmu menari di antara baris puisi, bagai melodi yang menghipnotis, Menyulam mimpi dalam sunyi yang genit, selalu, bagai bintang yang berkelip di langit malam.   Kau menulis ceritaku di langit senja yang memerah, Dengan warna-warna yang tak pernah usai, selamanya, bagai pelangi yang menghiasi cakrawala. Setiap goresanmu adalah detik yang hidup, berdenyut, Menyanyikan lagu tentang hati yang rapuh, terluka, bagai kaca yang retak namun tetap memantulkan cahaya.   Kisahmu, ceritaku, saling bertaut, bagai akar yang menjalin erat, Seperti bintang dan malam yang tak pernah redup, abadi, bagai dua jiwa yang tak terpisahkan. Aku menulismu, kau mengukirku, dalam kalbu, Dalam puisi abadi, kita menjadi satu, selamanya, bagai dua melodi yang bersatu dalam harmoni.   Sementara itu aku terus m...

Surat dari Rumah: Untukmu yang berjuang di Kota

Gambar
Adakah engkau di sana, di perantauan yang jauh? Menimba ilmu, mengejar impian di bangku kuliah? Dari mana pun engkau berasal, dari pelosok desa atau kota yang ramai, hatiku berbangga padamu, sungguh. Bukan hanya untuk dirimu sendiri, tapi terutama untuk kedua orang tuamu, pahlawanmu yang sejati. Kusadari betul, tak mudah menggapai kota ini, tak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak yang mereka korbankan, harta benda, keringat, bahkan mungkin air mata yang tersembunyi, Demi melihatmu tersenyum, demi menyokong langkahmu di jalan yang penuh liku.   Jika engkau tiga bersaudara, atau mungkin lebih, perjuangan mereka berlipat ganda, tak terhingga. Satu kuliah, dua bekerja, itulah jalan keluar yang kadang terpaksa dipilih. Kakak-kakakmu atau adik-adikmu rela menunda mimpi mereka, mengubur cita-cita yang terpendam, asalkan engkau yang meraih gelar sarjana, asalkan engkau yang membuka jalan bagi keluarga. Mereka rela berpeluh di desa, mengolah sawah atau ladang, atau mungkin merantau j...

"Ke Dalam Tangan-Mu": Simfoni Pengabdian

Gambar
Delapan Oktober Tahun Dua Ribu, janji suci terukir, Dalam sakramen imamat, jiwa berserah, takdir mengalir. "Ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku," ikrar abadi terpatri, Dua puluh lima purnama berarak, dalam panggilan kudus, asa tak pernah letih. Imamatmu, lentera jiwa yang tak pernah padam, Membelah Roti surgawi, menghapus noda dosa, membimbing jiwa yang terpendam.   Kilau perak membentang, lambang pengabdian sejati, Kasih mengalir abadi, tak lekang oleh badai dan sepi. Di lembah pencobaan, di puncak sukacita, kau teguh berdiri, Gembala umat, pembawa sabda, hikmat Ilahi memancar dari diri.   Syukur menggema, bagai kidung dari surga abadi, Atas rahmat Tuhan, anugerah tak terperi. Imamat suci, mahkota terindah karunia-Nya, Kau emban setia, dalam liturgi agung, dalam setiap khotbah bernyawa.   Dalam pelayanan, segenap jiwa kau persembahkan, Membawa Ekaristi, mendengarkan bisikan pertobatan. Dengan sabar, kau tuntun langkah umat-Mu yang merindukan sungai, mengukir iman, meng...

Mahligai Cinta: Janji Erfan dan Gersy

Gambar
Di altar suci nanti, cinta bersemi harum, Erfan dan Gersy, dua hati bertemu. Mahligai Cinta, istana impian dan syahdu, Tanpa syarat, bersama abadi dalam kalbu.   Tak goyah ombak kehidupan, tak bimbang nada cinta, "Ingin lama-lama besama dan selamanya!" janji Erfan dan Gersy kan terukir nyata. Dengan raga setia, sukma bercahaya, jiwa bersatu, Mahligai Cinta, janji suci takkan pernah layu.   Air mata bahagia kan tumpah, jadi embun pagi, Menjelma danau bening, cinta takkan henti. Sungai sejuk mengalir, lautan sukacita menanti, Erfan dan Gersy, pelayaran cinta takkan pernah sepi.   Dalam satu detik, cinta tercurah tak terhingga, Lebih deras dari hujan puisi, kasih membara. Keharuan demi keharuan selalu terasa, Membasahi bola mata, cinta tanpa dusta.   Tulang punggung Erfan dan Gersy, jadi satu, Menjelma sepasang cincin, simbol abadi. Saling bertaut, tak bisa terlepas waktu, Cinta sejati, hingga akhir nanti.   Di Mahligai Cinta, tak ada amarah terpendam, Sebab Erfan ...

Menjawab Tanya

Gambar
Mungkinkah begitu? tanya sang senja, Saat malam berbisik, bintang pun meredup. Bolehkah hati ini berharap lebih, Dari sekadar mimpi yang tak bertepi? Mungkinkah begitu? tanya jiwa yang resah, Saat rindu menggebu, tak bisa terpecah. Bolehkah ku sentuh bayangmu di sana, Walau hanya sekejap, lalu menghilang sirna?   Mungkinkah begitu? tanya hati yang berani, Saat cinta bersemi, di tengah sunyi. Bolehkah ku ungkap semua yang kurasa, Tanpa takut terluka, tanpa ragu binasa?   Mungkin saja, jawab sang waktu yang bijaksana, Jika kau percaya pada keajaiban cinta. Mungkin saja, jawab semesta yang luas, Jika kau berani melangkah, tanpa merasa cemas.   Boleh saja, jawab hati yang tulus, Jika kau siap menerima, tanpa harus membalas. Boleh saja, jawab jiwa yang merdeka, Jika kau ikhlas mencinta, tanpa syarat dan duka.   Jadi, mungkinkah begitu?, dan bolehkah? " Maka, saat ini, sebelum senja itu berlalu begitu saja dari pandanganku,  akan kujawab, dengan lima nada sendu yang m...