Surat dari Rumah: Untukmu yang berjuang di Kota
Adakah engkau di sana, di perantauan yang jauh? Menimba ilmu, mengejar impian di bangku kuliah?
Dari mana pun engkau berasal, dari pelosok desa atau kota yang ramai, hatiku berbangga padamu, sungguh.
Bukan hanya untuk dirimu sendiri, tapi terutama untuk kedua orang tuamu, pahlawanmu yang sejati.
Kusadari betul, tak mudah menggapai kota ini, tak semudah membalikkan telapak tangan.
Banyak yang mereka korbankan, harta benda, keringat, bahkan mungkin air mata yang tersembunyi,
Demi melihatmu tersenyum, demi menyokong langkahmu di jalan yang penuh liku.
Jika engkau tiga bersaudara, atau mungkin lebih, perjuangan mereka berlipat ganda, tak terhingga.
Satu kuliah, dua bekerja, itulah jalan keluar yang kadang terpaksa dipilih.
Kakak-kakakmu atau adik-adikmu rela menunda mimpi mereka, mengubur cita-cita yang terpendam, asalkan engkau yang meraih gelar sarjana, asalkan engkau yang membuka jalan bagi keluarga.
Mereka rela berpeluh di desa, mengolah sawah atau ladang, atau mungkin merantau juga dengan pekerjaan yang tak kenal lelah, demi melihatmu sukses, mewujudkan impian yang terpendam dalam dada mereka.
Namun, apa yang kini engkau perbuat, wahai jiwa yang merantau?
Mengapa kuliah kau abaikan, lebih memilih berpacaran di pantai sepi, di bawah rembulan yang sendu?
Mengapa uang buku kau hamburkan, untuk bergaya dan bermewah diri, mengikuti tren yang tak berujung?
Mengapa KKN hanya kepura-puraan belaka, padahal engkau telah dipecat dari perguruan tinggi, karena lalai dan tak bertanggung jawab?
Tegakah engkau melihat mereka bersimpuh di tanah, memohon doa di setiap sujudnya?
Saat hinaan menerpa, saat cibiran menghantam, mereka tegar menahan, tak ingin kau terluka,
Karena mereka percaya padamu, engkau adalah harapan mereka, engkau mampu mengangkat harkat dan martabat keluarga, membuktikan bahwa pengorbanan mereka tak sia-sia.
Lalu, mengapa engkau tersesat jalan, wahai anak rantau yang kusayangi? Mengapa engkau berubah haluan, melupakan jati diri?
Mengapa kau gadaikan kehormatanmu, demi telepon genggam mewah, demi ingin dipandang bak bangsawan, padahal engkau hanya seorang perantau biasa?
Mengapa tak mampu jujur pada diri sendiri, mengakui asal usulmu yang sederhana?
Bahwa engkau berasal dari keluarga biasa, bukan saudagar negeri yang bergelimang harta?
Mengapa tak bisa menerima apa adanya, selalu mengejar ada apanya, terjebak dalam lingkaran setan materialisme?
Mengapa terperdaya gemerlap dunia, tak mampu berdaya melawan goda, hingga akhirnya terjerumus dalam jurang yang kelam?
Apakah rumah kelahiranmu itu memalukan, hingga engkau enggan untuk mengingatnya?
Apakah air mata perpisahan di pelabuhan, saat mereka melepasmu dengan doa dan harapan, kurang membekas untuk membakar semangatmu di setiap embusan napas, hingga engkau melupakan janji-janjimu?
Engkau lelaki kah, engkau perempuan kah, tak peduli apa gendermu,
Cobalah sentuh hati orang tuamu, rasakan kasih sayang mereka yang tak terhingga, yang takkan pernah pudar oleh waktu.
Jangan tergiur kemilau dunia yang fana, lupakan kesederhanaan yang telah membentukmu menjadi dirimu yang sekarang.
Setiap kali godaan menghampiri, setiap kali rayuan menggoda hati, ingatlah wajah mereka, ingatlah pengorbanan mereka.
Lepaskanlah, jika menjauhkanmu dari keluarga, merenggut jati dirimu, dan menghancurkan masa depanmu.
Karena mereka tak benar-benar memahami pergumulanmu, tak menghargai perjuanganmu yang sesungguhnya,
Hanya ingin memanfaatkanmu, memperalatmu untuk kesenangan sesaat, tak mampu mewujudkan mimpimu yang besar.
Kelak, engkau pasti bangga, dan mereka pun demikian, saat melihat senyum mama dan papa,
Memelukmu erat dalam balutan toga kebanggaan, air mata bahagia membasahi pipi mereka yang mulai keriput.
Mereka mungkin tak banyak berkata, hanya senyum dan pelukan hangat yang mereka berikan, namun cinta mereka membara, melebihi apa pun di dunia ini.
Menjadi api yang tak pernah padam, menerangi setiap langkahmu, membimbingmu menuju jalan yang benar.
Itulah alasan mereka bekerja keras siang dan malam, tanpa kenal lelah, tanpa mengharapkan imbalan,
Demi biaya kuliahmu, demi mencukupi kebutuhanmu, demi masa depanmu yang gemilang, yang akan membawa kebahagiaan bagi seluruh keluarga.
Satu-satunya alasan paling nyata untukmu berjuang, wahai jiwa yang merantau,
Adalah agar engkau menjadi insan berguna, membanggakan keluarga, mengharumkan nama, dan memberikan kebahagiaan yang tak terhingga bagi mereka yang menyayangimu.
Di situlah dunia akan tahu, siapa yang melahirkanmu, siapa yang membesarkanmu dengan penuh cinta dan pengorbanan, hingga engkau menjadi dirimu yang sekarang.
Jika saat ini engkau tersesat, merasa kehilangan arah, kembalilah, sahabatku, kembalilah ke jalan yang benar.
Tak pernah ada kata terlambat untuk memaafkan diri sendiri, mengakui kesalahan, dan memulai lembaran baru yang lebih baik.
Ingatlah selalu, engkau tak pernah sendirian, ada keluarga yang selalu menyayangimu, menunggumu dengan sabar, dan siap menerima kepulanganmu.
Ambon ⁴ ⁸ ²⁰¹⁹(ESP)Pnls. Nurobo, ⁸ ¹⁰ ²⁰²⁵(RM)Amndmn.

Komentar
Posting Komentar