Surat Untuk Tuhan


By;Risen_Manek


Di bawah tangga, di antara bayang-bayang patah kayu jati tua, simbol rumah dan akar, aku menulis surat pada-Mu, Tuhan. Tinta biru, seperti air laut Tanjung Bastian yang dalam, melukiskan resahku di atas kertas putih, polos seperti pasir pantai Wini yang belum terjamah.

Bukan keluh kesah seperti angin musim barat yang mengamuk, ya Tuhan, hanya pertanyaan lembut seperti desiran ombak di pagi hari. Aku ini siapa? Sebutir garam di lautan luas, tak terlihat, namun bagian dari rasa. Sehelai benang sutra dalam kain tenun Be'ti, tak mencolok, namun menyatu dalam keindahan.

Aku bagai sampul buku kuno, Atoin Meto, kulitnya kusam, namun menyimpan cerita epik. Terlempar di sudut perpustakaan Sekolah Tinggi Pastoral Santo Petrus, berdebu, namun menyimpan pengetahuan berharga. Di dalam, mimpi-mimpiku terbentang seperti hamparan padang rumput di Mamsena, luas, subur, penuh keindahan.

Mengapa, ya Tuhan, Engkau beri aku mimpi seluas langit sore di atas Bukit Bijaela Sunan? Mimpi yang membumbung tinggi, seperti burung elang terbang di atas pegunungan Mutis. Mimpi yang menyala-nyala, seperti api unggun di malam perayaan ulang tahun Kota Sari. Apakah ini ujian berat seperti mendaki Gunung Fafinenu? Atau petualangan menuju kebijaksanaan seperti perjalanan para pelaut Oe'bubun terdahulu?

Aku merasa rapuh seperti anyaman Lontar, mudah hanyut, namun tetap teguh dalam keanggunannya. Fana dan mudah hilang seperti jejak kaki di pantai Oe'bubun, namun tetap meninggalkan kesan. Namun, dalam kelemahanku, aku temukan kekuatan seperti batu karang di tengah laut, kokoh dan tak tergoyahkan.

Di bawah tangga, di tempat sunyi ini, aku berdoa, memohon petunjuk-Mu. Semoga Engkau beri kekuatan seperti akar pohon beringin yang merentang luas, menaungi banyak generasi. Semoga Engkau berikan hikmat seperti air sungai Noemuti yang mengalirkan kehidupan bagi semua makhluk.

Aku manusia fana, yang sadar akan keterbatasannya seperti batas cakrawala di laut lepas. Namun, aku tetap berharap, pada keajaiban kasih sayang-Mu yang tak terbatas, seperti luasnya Samudera . Di bawah tangga ini, aku berjanji, akan terus berjuang, menggapai mimpi, dan menemukan arti dari perjalanan hidupku di bumi Kefamenanu ini.


Kefamenanu, 11 Mei 2025.

Saat itu, di Ruang Kuliah STP. ST Petrus Keuskupan Atambua, (RM)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahligai Cinta: Janji Erfan dan Gersy

"Ke Dalam Tangan-Mu": Simfoni Pengabdian

Doa yang Kupuisikan: Catatan Rahasia di Balik Purnama