(Cerpen dan Puisi) Ulang Tahun dan Sajak Kesedihan


By: Risen Manek dan Sajak🖋

Mentari senja menorehkan warna jingga di langit, membias lembut di kaca jendela kamar Manek. Udara dingin malam menyusup masuk, membawa aroma tembakau yang khas. Manek, seorang penulis puisi yang namanya mulai dikenal di kalangan terbatas, duduk termenung di kursi usangnya. Asap rokok mengepul, menari-nari mengikuti alunan musik klasik yang mengalun pelan dari pemutar kaset tua di sudut ruangan. Secangkir kopi hitam pekat, dingin dan pahit, tergenggam di tangannya—secangkir rindu yang telah menjadi candunya.

Ia tak pernah menemukan cinta. Bukan karena tak dicintai, tetapi karena ia sendiri yang membangun tembok tinggi di sekeliling hatinya. Cinta baginya adalah entitas yang terlalu rapuh, terlalu rentan terhadap luka. Lebih mudah, lebih aman, untuk tenggelam dalam dunia imajinasinya, menyusun kata demi kata menjadi puisi-puisi yang menyayat hati. Puisi-puisi tentang kesepian, tentang rindu yang tak bertepi, tentang cinta yang tak pernah sampai.

Rokok menjadi teman setia. Setiap tarikan asap, seakan membawanya ke dimensi lain, di mana kesedihannya terselubung oleh kabut nikotin. Asap itu seperti pelarian, sebuah pelukan hangat di tengah dinginnya malam. Ia menemukan kedamaian sesaat di dalamnya, sebuah kedamaian yang palsu, yang hanya bertahan sebentar sebelum kembali dihantam gelombang rindu yang tak pernah surut.

Kopi hitam itu, secangkir rindu, adalah penguatnya. Pahitnya seakan mencerminkan pahitnya hidup yang ia jalani. Dinginnya menyayat, seperti pisau yang menusuk-nusuk kalbunya. Namun, di balik rasa pahit dan dingin itu, ada sebuah kenyamanan yang aneh, sebuah pelukan yang menenangkan, walau hanya sesaat. Ia terus menyesap, menikmati rasa pahit yang mencengkeram tenggorokannya, menahan rasa hampa yang menggerogoti jiwanya.

Suatu malam, ia menulis puisi tentang secangkir rindu. Bait demi bait tercipta, mengalir deras seperti air mata yang tak mampu ia bendung. Dalam puisi itu, ia melukiskan rasa rindu yang mendalam, rindu akan sebuah cinta yang tak pernah datang, rindu akan sentuhan hangat yang tak pernah ia rasakan. Ia menulis tentang rokoknya, teman setia yang selalu ada di sampingnya, menemani kesepiannya yang tak berujung.

Puisi itu menjadi karya terbaiknya. Ia menemukan keindahan dalam kesedihan, keindahan dalam kesendirian. Ia menyadari, bahwa mungkin cinta yang ia cari tak akan pernah datang, tetapi ia tetap bisa menemukan keindahan dalam kehampaan. Ia tetap bisa hidup, dengan rokoknya dan secangkir rindunya yang telah menjadi candu, tetapi juga menjadi sumber inspirasinya. Dan di bawah langit malam yang gelap, Manek terus menulis, mencari kedamaian di antara asap rokok dan rasa pahit kopi yang mengaduk-aduk rindunya....


 Di ambang senja ke-dua puluh lima,

Kesedihan bertahta, di singgasana jiwa.

Dua puluh lima tahun, asap rokok menari-nari,

Menyembunyikan luka, di balik kabut tipis.

Secangkir rindu, dingin dan pahit terasa,

Candu yang menjerat, dalam dekapannya.

Sajak-sajak tercipta, dari air mata yang jatuh,

Menyulam cerita, tentang cinta yang tak pernah datang.

Dua puluh lima tahun, pena tak pernah lelah,

Menorehkan kata, tentang kesepian yang berkelana.

Cinta dalam sebatang rokok, hanya ilusi semu,

Yang menghangatkan sejenak, lalu kembali hampa.

Di bawah langit malam, bintang-bintang berbisik,

Tentang mimpi yang sirna, janji yang tak terpenuhi.

Namun, aku! Masih tetap berdiri tegar,

Meskipun luka menganga, di relung hati yang terdalam...



By Risen Manek. 

Kefamenanu, 05 Mei 2025. Di lorong Kampus STP St. Petrus Keuskupan Atambua.🖋

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahligai Cinta: Janji Erfan dan Gersy

"Ke Dalam Tangan-Mu": Simfoni Pengabdian

Doa yang Kupuisikan: Catatan Rahasia di Balik Purnama