Antara Puisi dan Mengheningkan Cinta



Mengenalnya karena sebuah puisi, ketika itu umurku menginjak dua puluh satu tahun. Tak ada kesengajaan bagiku mendapati larik-larik dalam satu babak romantisme. Dia adalah seseorang yang tak dapat kuterjemahkan, yang kemudian direbut oleh seorang penikmat yang tak kukenal. Aku tak perlu menghafal namanya, sebab telah terekam dalam denyut nadi berupa nada-nada sendu. Dalam segala saat aku menulis tentang dia dalam bentuk puisi yang tak pernah kulupa larik-lariknya. Aku membacanya, menelan isinya, dan memajangnya di dalam kalbu. Tapi, sore itu sisa cahaya matahari menampakkan sederet kata yang tertera di dinding hati yang hampa. Lalu segera ku tepis penyesalan yang hampir menghampiriku, dan mengembalikannya pada penikmat yang sudah beberapa kali menyelami puisiku. Barangkali aku adalah pengganggu luar biasa yang tak pernah bosan menulis tentang dia, tapi sayangnya dia adalah susunan kata yang sudah ada penerjemahnya sendiri.  Aku menyebutnya puisi yang mematahkan. Maka sebelum pergi, aku meninggalkan dia yang adalah puisi yang sudah kutulis beberapa kali itu diatas air mata yang sia-sia belaka. Aku menyebutnya Puisi yang patah. Karena hanya puisi yang mampu mengheningkan cinta. 



Risen Manek dan Sajak

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahligai Cinta: Janji Erfan dan Gersy

"Ke Dalam Tangan-Mu": Simfoni Pengabdian

Doa yang Kupuisikan: Catatan Rahasia di Balik Purnama