DONGENG TIKUS

Eko Saputra Poceratu


Didedikasikan untuk anak-anak Maluku yang tidak punya guru, sekolah, dan kesempatan untuk bermimpi.


Sambil menunggu buah kenari jatuh, seorang anak berkata pada bapaknya:


“Papa, apakah negeri kita sangat miskin, sampai sekolah pun hanya sebuah walang? Apakah kita tidak bisa menjual banyak kenari dan membangun sekolah yang sangat besar seperti di televisi?”


Sambil tersenyum sang bapak menjawab:


“Negeri kita ini kaya nak. Lihat, kenari saja bisa tumbuh di atas karang. Bayangkan apa yang bisa tumbuh di atas tanah? Tentu kita bisa membangun sekolah. Pemerintah punya banyak uang, hasil menjual hasil-hasil alam kita, tetapi ada tikus hutan yang sering mencuri uang itu, jadi sekolah kita belum juga berdiri.”


Lima buah kenari jatuh. Si anak tak bergerak. Ia masih ingin bertanya:


“Kalau sekolah belum ada, bisakah kita diberi ibu guru yang cantik dan pintar. Mengapa belum ada guru yang datang ke sini ayah? Kita masih bisa membayarnya dengan cengkih atau pala, jika belum musim kenari.”


Sang ayah terseyum. Pertanyaan putrinya cukup serius, maka beginilah jawabannya:


“Kau tahu nak, ada banyak sekali guru di luar sana. Mereka pintar sekali, tetapi untuk bisa ke sini, mereka perlu uang. Harus naik pesawat, kapal, speed boat, perahu dan biayanya cukup mahal. Para guru juga perlu rumah, perlu makan sehari-sehari untuk dirinya dan keluarganya. Masalahnya nak, gaji guru itu juga sudah diambil tikus hutan tadi.”


Sepuluh buah kenari bersamaan gugur. Jumlah itu dihitung kesabaran angin. Sekali lagi, si anak bertanya karena masih belum puas dengan jawaban ayahnya:


“Ayah, mengapa tikus hutan itu rakus sekali? Apakah di hutan sudah tidak ada lagi makanan untuknya? Kita bisa datang kepada raja tikus itu dan bilang supaya tidak mencuri lagi. Apa ayah tahu di mana istana tikus hutan itu?”


Sang Ayah kembali tersenyum sambil berusaha tetap menjawab dengan tenang:


“Raja tikus itu senang bersembunyi nak. Kalau ada manusia yang datang, dia seperti takut atau malu-malu kucing atau mungkin saja raja tikus sibuk bernyanyi. Kalau tidak salah ayah dengar, tikus hutan akhir-akhir ini sedang sibuk dengan mobil-mobilnya yang mahal. Raja tikus terlalu sibuk nak.”


Si anak langsung merespon dengan cepat:


“Kalau raja tikus sibuk, kita bisa berbicara langsung dengan ratu tikus ayah?”


Sang Ayah menatap langit. Sepertinya ia sudah mulai kewalahan menjawab pertanyaan anaknya sendiri, namun ia tetap menjawab:


“Nak, ratu tikus itu lebih sibuk. Dia sibuk main youtube nak. Akhir-akhir ini dia sedang mengumpulkan banyak anak-anak semut untuk kegiatan belajar. Dia sangat terkenal sampai dijuluki maha agung ibunda tikus. Bahkan ibunda tikus ini punya sebuah kafe yang sangat indah. Dia juga senang liburan dengan teman-temannya meski rakyatnya sedang meninggal dunia.”


Si Anak tertawa kecil sambil berkata:


“Ayah, raja dan ratu tikus hebat ya. Tidak kusangka mereka juga youtuber. Hebat sekali. Mereka berbakat ya. Bisa bernyanyi, bisa mengajar, punya mobil mewah, punya kafe indah, bisa liburan. Wah, senangnya. Kalau di sini sudah ada listrik, sudah ada internet, aku juga ingin seperti mereka ayah. Jadi youtuber.”


Sambil memegang tangan anaknya, Sang Ayah berkata:


“Nak, kau tidak ingin bersekolah lagi? Tidak ingin punya ibu guru lagi? Ayah tidak ingin kamu jadi seperti raja atau ratu tikus. Kamu harus jadi manusia berguna, jujur dan berani. Kamu tidak boleh mencuri milik orang lain. Seluruh kekayaan di Istana tikus adalah hasil mencuri. Kamu harus belajar dengan hati nurani agar kelak tidak menjadi pencuri.”


Si Anak memeluk ayahnya. Dia menjawab pelan:


“Ayah, aku ingin seperti ayah. Ayah sepertinya lebih cerdas dari keluarga tikus itu. Aku janji akan menjadi anak yang jujur, cerdas dan berani serta tidak mencuri. Kalau aku bertemu dengan raja dan ratu tikus itu, aku akan memberi mereka banyak buah kenari supaya mereka bisa menjualnya dan tidak perlu mencuri milik orang lain lagi.”


Sang Ayah tertawa dan menampar angin yang berusaha menidurkannya sambil berkata:


“Ayah sangat mencintaimu. Jadilah dirimu sendiri dan jangan jadi seperti siapapun di dunia ini, termasuk ayah. Jadilah seperti buah kenari. Keras di luar, berisi di dalam. Burung-burung bisa menggigit kulitmu tapi tidak bisa mengambil hatimu.”


Seratus buah kenari gugur bersamaan. Jumlah itu masih dihitung oleh kesabaran. Sang Ayah dan anaknya mengumpulkan seluruh buah kenari itu. Mereka pulang dengan gembira seperti orang-orang merdeka.


2021





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahligai Cinta: Janji Erfan dan Gersy

"Ke Dalam Tangan-Mu": Simfoni Pengabdian

Doa yang Kupuisikan: Catatan Rahasia di Balik Purnama