PEREMPUAN YANG LELAKI
Sebelum November menjemput setiap tahun.
Dua puluh tahun yang lalu di hari kesembilan bulan ke sebelas
Hadir seorang anak perempuan, dengan bola mata yang indah.
Hidungnya nampak seperti pinokio.
Anak perempuan yang persis hasil salinan ayahnya namun dalam versi perepuan.
Aku menyebutnya perempuan yang lelaki.
Seperti apa pelupuk mata tanpa air mata, laut tanpa gelombang dan merindukan tanpa berharap, adalah ilusi yang tampak nyata karena sebuah perasaan.
Ia selalu tersenyum meski hidup cukup menggoyahkannya.
Dalam katupan tangannya ia melipat harap pada Tuhan, agar letih dan lesunya di ringankan.
Mungkin terlintas dalam hatinya "mengapa harus aku ?, mengapa harus aku yang merasakan sakit ini.?
Ia menyembunyikan kepedihan, hanya dengan tersenyum ringan.
Aku menyebutnya perempuan yang lelaki.
Namun sejauh perjalanan hidupnya belum juga ia temukan apa yang diharapkan.
Ia melewati hari-hari yang berat.
Maka ia selalu menyempatkan diri untuk bersandar di bahu Tuhan.
Adakah kelegaan itu untuk dia rasakan?
Yaa.. untuk dia.. yang kusebut perempuan yang lelaki.
Perempuan yang mampu bertahan dan berjuang meski sudah patah.
Mungkin ketika ia melemparkan senyuman-senyuman ringan, disitupula air matanya menetes melewati pori-pori wajahnya.
Aku menyebutnya perempuan yang lelaki, yang ingin selalu hidup meski sudah patah..

Thank you Kaka😇
BalasHapus