Dari riuh isi kepala yang menggelegar.

Aku sempatkan diri untuk berkencan dengan Tuhan.

Belum sempat aku mengadu pada Tuhan.

Aku mendengar angin berbisik,  bahwa melukai itu jahat.


Aku bertanya pada sisa waktu yang ada.

Mengapa hari ini tak seperti hari kemarin?

Seolah-olah  semua bunga kini berduri!

Akar perasaan manusia pun menjadi nihil.

Entahlah..


Orang-orang akan berubah sebelum musim mengubahnya.

Mereka akan memberikan  cenderamata dari dasar perasaan yang  nihil.

Mungkin itu semangkok luka dan secangkir air mata. 

Adakah Manusia di ciptakan untuk itu?

Entahlah..


Ketika tutur tak lagi mewakili apa yang tersirat.

Sabda itu tak berbentuk, dia adalah lisan.

Ini tentang nurani yang tekekang raga yang tak pernah dianggap ada.

Entahlah...

Mengapa semesta mengagetkanku dari mimpi yang harmoni.?


Ketika kedua tangan ku saling berpelukan.

Dari katupan tangan yang penuh harap.

Coba ku amanatkan dalam hati.

Tuhan tidak akan memisahkan kita dari sesuatu yang baik, kecuali digantikan dengan yang lebih baik









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahligai Cinta: Janji Erfan dan Gersy

"Ke Dalam Tangan-Mu": Simfoni Pengabdian

Doa yang Kupuisikan: Catatan Rahasia di Balik Purnama