SENJA


Senja, aku ingin memberitahumu suatu hal yang tak pernah kuceritakan pada siapapun.

Tentang sebuah asa yang tenggelam dibalik horizon.

Hilang begitu saja tanpa ada satupun yang menyadarinya.

Malam pun berganti, dan semuanya lenyap tanpa meninggalkan jejak.

Pada awalnya tak ada hening

Aku mendengar kebisingan ditengah keheningan yang bening dari alam mimpi

Sepersekian mata mengedip, tangan melambai, melangkah, tak kusadari!

Tak ada waktu untuk melihat atau sekedar membaca kembali kertas kusam yang baru saja kusajaki

Aku melihat seorang adam terkulai lemas di perempatan jalan.

Sekuntum mawar mekar diatas trotoar tempat adam duduk memeluk lutut

Lalulalang tak iseng-iseng, tak ada yang peduli atau sekedar menegur sapa

Adam masih terus merajuk, menatapi kebisuan

Seisi bumi hening, aku melihat bulan dan bintang bergantung lantaran langit telah menjadi bisu

Adam masih terdiam di perempatan jalan itu sambil menjahit kembali benang hatinya yang robek

Aku melempar adam dengan senyuman ringan,,

Adam tersenyum ringan,,

Masih di perempatan jalan itu

Aku melambaikan tangan ketika adam beranjak pergi dengan sapu tangan yang basah kuyup

Tak ada hujan tak ada angin. Yang ada hanyalah hening

Adam sempat menoleh padaku lalu pergi, membawa sajak hening yang bening dari perempatan

Masih di perempatan jalan itu

Ketika mentari mulai memantul disudut kota, terpaku aku menatap langit

Berkaca pada banyangan sambil kujahit luka jadi Satu

Sedikit demi sedikit kubasuh aku

Aku tatapi diriku pada cermin bayangan, dan kulihat banyak sekali retakan

Tetapi matahari masih terus bersianar untuk hati yang kemarau

Dan bunga-bunga terus bermekaran di atas batu

Berlari kesana-kemari tanpa arah mencari adam, sembari berlagu mencari tumpuan

Tersesat dan menjerit didalam dunia, tak kunjung kutemukan

Tersudut dan runtuh tanpa makna, kemana perginya adam?

Aku nyanyikan lalgu-lagu tanpa judul di tangga nada kehidupan yang rapuh

Lalu aku melihat adam sedang asyik menggeser senar hatinya yang begitu teduh dan terasa syahdu. 

Aroma kuat dari secangkir kopi, disertai nyanyian hujan, serta alunan musik klasik menemaniku malam ini.

Malam, lagi-lagi aku duduk di bawah kolong langit.

Menjelajahi ruang imajinasi yang memutar cerita baru setiap waktu. Tidak, aku Salah. Ia hanya mengulang kembali semua cerita lama. Anehnya, ilusi itu terasa nyata. 

Namun ada suatu waktu dimana ia berhenti. Kosong. Disaat aku tak bisa merasakan apa-apa lagi.

Kunamakan ini: “NADA DAN NADI KEHIDUPAN DALAM KEHENINGAN”.



Haliwen_ 06/02/24

@Řìśśėň.M



 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahligai Cinta: Janji Erfan dan Gersy

"Ke Dalam Tangan-Mu": Simfoni Pengabdian

Doa yang Kupuisikan: Catatan Rahasia di Balik Purnama