Malam patah menara

 



Anak ayam yang tersesat mengeluarkan suara 

Mencari induknya pukul 00.00 itu adalah sajakku

Yang belum selesai merakitmu menjadi puisi liris

Sementara aku seumpama tanah tandus

Yang mendiami bumi yang hampir kehabisan nafas


Kata-kata sejalan dengan aroma tanah

Yang merindukan tetesan hujan dari isyarat yang dibawah oleh mendung.

Jangan salahkan sajakku, jika malam ini, aku

Menghilangkan jejakmu pada setiap baitnya


Anak ayam mengajariku untuk menjadi induk yang peduli, tapi anak ayam sungguh disayangkan.

Mencari dan menyusuri induk dalam amukan karsa, tanpa kata

Sudakah kau tahu?. Itulah aku, penyair yang kau anggap bodoh, Sayang.

Maka Terjadilah pada bait-bait sajakku menurut, pemikiranmu.


00.00 kata demi kata masih terus mengalir dan tersusus menjadi bait kecemasan

Bagi anak ayam yang mencari induknya

Sudakah kau rasakan asin air matamu? Atau asin air mata dari anak ayam?

Jika sudah kau rasakan. Jangan pernah lagi kau  minta walau itu hanya setetes. Apalagi secangkir!

Jangan.

Jangan.

Kunamakan ini malam patah menara










Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahligai Cinta: Janji Erfan dan Gersy

"Ke Dalam Tangan-Mu": Simfoni Pengabdian

Doa yang Kupuisikan: Catatan Rahasia di Balik Purnama