EMPAT SEDUHAN KOPI
Seduhan Pertama Dihadapan pahitnya kopi, kita hanyalah penganut sepi yang menjadikannya pelarian. Apakah sepi harus selalu jadi jalan pulang? Tidakkah cukup sepi mengiringi luka?. Mungkin kita perlu menerjemahkan luka kedalam kata-kata agar mudah dipahami. Akhirnya kita tiba di penghujung kata berpisah sepersekian senti bukan untuk berhenti dan selesai tapi untuk tanggal lalu tinggal memulai yang baru. Seduhan kedua Dihadapan pahitnya kopi, kita hanyalah tubuh kosong yang menyeruput hangat dan berharap ampasnya tidak terlalalu dalam untuk sebuah kenangan. Pernakah kita menyadari keraiban tanpa menghadirkan ingat? Lupa pun memerlukan rupa? Mengapa tidak kita biarkan saja mereka saling memeluk dalam rupa yang sama? Lupa dan luka barangkali bisa saling memeluk. Akan tetapi, apakah dengan begitu luka menjelma lupa? Atau dengan itu lupa menjelma luka? Keduanya hanya bisa diam dan saling memandang. Seduhan kedua menghantar kita pada pilihan menempuh malam atau menyelesaikan perjalanan. ...